
Nama adalah doa, dan bagi seorang remaja bernama Ulul Azmi, nama tersebut kini bukan sekadar identitas, melainkan cerminan nyata dari keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Perjalanannya melawan sakit bukanlah cerita baru; ia telah bertarung sejak duduk di bangku kelas 6 SD.
Memasuki kelas 7, ujian fisik mulai datang dalam bentuk kejang yang sempat disangka sebagai gangguan non-medis. Namun, setelah menjalani proses rukiyah dan tidak ditemukan masalah spiritual, Ulul tetap melangkah. Di kelas 8, meski tubuhnya kerap diserang demam berhari-hari, sakit kepala yang menusuk, hingga gejala tipus, semangat belajarnya tak pernah padam. Ia melawan rasa sakit itu demi satu tujuan: tetap hadir di madrasah.
Memasuki tahun terakhirnya di MTsN 7 Kota Padang, kondisi Ulul mulai menurun drastis. Setelah berkali-kali masuk rumah sakit tanpa diagnosa yang pasti, titik terang sekaligus ujian berat muncul saat ia dipindahkan ke rumah sakit lain. Hasil medis menunjukkan adanya cairan dan pembengkakan di kepala. Saat itu, vonis operasi sempat ia tolak dengan kalimat yang memilukan, “Lebih baik mati daripada operasi di kepala.”
Namun, di balik penolakan itu, ada jiwa yang begitu religius. Pada bulan Ramadan lalu, dalam kondisi fisik yang sangat lemah, Ulul tetap memaksakan diri untuk berpuasa, melaksanakan tarawih, dan mengikuti seluruh rangkaian Pesantren Ramadan. Ia seolah ingin mempersembahkan sisa tenaganya untuk beribadah kepada Sang Khalik.
Kondisi Ulul sempat drop pasca-lebaran hingga akhirnya dilarikan ke RSUP Dr. M. Djamil. Di sana, tindakan medis tidak bisa lagi ditunda. Operasi pengangkatan tumor dan pembuangan cairan di kepala pun dilakukan. Kini, tubuh mungilnya bergantung pada selang yang terpasang dari kepala hingga ke kantong kemih untuk membuang sisa cairan.
Kondisinya saat ini sangat terbatas. Ulul belum bisa berjalan, dan tubuh bagian kirinya masih sangat lemah akibat pemasangan selang tersebut. Komunikasinya pun terbatas; ia hanya mampu menjawab singkat dengan satu atau dua kata. Namun, ada satu hal yang tidak pernah putus: Zikir dan hafalan ayat-ayat pendek selalu membasahi bibirnya.
Meski sebulan lagi ia harus kembali naik ke meja operasi untuk mengangkat satu tumor lagi yang masih bersarang, Ulul tidak pernah mengaduh. Tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya. Kesabarannya benar-benar mencerminkan gelar “Ulul Azmi” yang disematkan orang tuanya—sebuah gelar bagi mereka yang memiliki ketabahan luar biasa.
Di balik tatapannya yang sayu, tersimpan satu cita-cita mulia yang menjadi bahan bakarnya untuk bertahan: Ia ingin segera sembuh dan melanjutkan sekolah ke jenjang SMA.
Kisah Ulul Azmi adalah pengingat bagi kita semua di MTsN 7 Kota Padang, bahwa di balik seragam sekolah yang kita kenakan, ada perjuangan nyawa yang sedang dipertaruhkan dengan penuh keikhlasan. Mari kita selipkan doa di setiap sujud kita, agar maunah kesembuhan segera menghampiri putra terbaik kita ini. (Humas/FAS)












Leave a Reply